SNTV – Banda Neira bukan sekadar dikenal sebagai Pulau Rempah yang mendunia. Di balik sejarah panjangnya, pulau kecil di Maluku itu juga menyimpan jejak peradaban Islam yang terus hidup di tengah masyarakat. Di sanalah Della Monica, mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Metro, menapaki perjalanan pengabdian dan penelitian bermakna melalui program beasiswa fully funded.
Mahasiswi semester akhir ini berhasil lolos sebagai penerima Program Ekspedisi Pemuda Indonesia Batch Banda Neira yang digagas Yayasan Semangat Muda Indonesia. Di tengah kesibukannya sebagai pengajar di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Al-Islami, Della terpilih menjadi satu dari 12 delegasi terbaik yang mendapatkan dukungan penuh, mulai dari pendanaan kegiatan, uang saku, hingga surat rekomendasi untuk melanjutkan studi. Ia berangkat menuju Banda Neira pada 25 Desember 2025 dan menjalani pengabdian hingga 14 Januari 2026.
Selama di Banda Neira, Della mengemban amanah sebagai ketua bidang pendidikan. Perannya diwujudkan melalui berbagai kegiatan, di antaranya mengajar di SDN 341 Maluku Tengah, pendampingan literasi anak, permainan edukatif berbasis luar ruang, hingga mengajar Al-Qur’an di lingkungan masyarakat. Aktivitas tersebut berlangsung sejak pagi hingga malam hari, menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak-anak kepulauan.
“Menginjakkan kaki di Tanah Banda merupakan impian banyak orang. Ketika aku diberi kesempatan berada di sini, aku berusaha berkontribusi sebaik mungkin dan memberikan manfaat sesuai dengan prinsip khairunnās anfa‘uhum linnās—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Menghabiskan waktu dari pagi hingga malam bukan masalah bagiku,” ungkap Della.
Tak hanya fokus pada pengabdian pendidikan, Della juga melakukan penelitian lapangan untuk menelusuri jejak sejarah Islam di Banda Neira. Penelitian ini menjadi upaya mendokumentasikan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Baginya, Banda Neira adalah ruang belajar terbuka yang kaya akan pelajaran tentang peradaban, spiritualitas, dan keteguhan nilai.
Kehadiran Della pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi dalam setiap kegiatan belajar, sementara warga menilai program yang dijalankan memberi dampak nyata. Salah satu guru mengaji setempat, Mama Marhama, menyampaikan apresiasinya.
“Mengajar ngaji di tanah Banda ini adalah anugerah. Banda memiliki sejarah Islam yang panjang, dan melihat anak-anak masih semangat mengaji memberi harapan besar. Kami berharap ada guru seperti Della yang bisa mendampingi lebih lama,” ujarnya.
Program pengabdian yang dijalankan dinilai memiliki potensi keberlanjutan karena mudah diterapkan dan selaras dengan kebutuhan lokal. Di akhir pengabdiannya, Della berharap apa yang ia lakukan menjadi awal kolaborasi jangka panjang antara pemuda, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Menurutnya, Banda Neira tidak hanya layak dikenang sebagai pusat rempah dunia, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang sarat nilai sejarah, keislaman, dan kemanusiaan. Ia pun mengajak generasi muda untuk berani terjun langsung ke lapangan, karena kontribusi sederhana yang dilakukan dengan keikhlasan mampu memberi arti besar bagi masa depan anak-anak di wilayah kepulauan.
Editor: Martin R Pasuko Dewo





