Capital city – Fenomena artis menduduki kursi DPR sudah bukan hal baru. Dari periode ke periode, wajah-wajah dunia hiburan kerap menghiasi parlemen. Sayangnya, bukan karena prestasi yang membanggakan, melainkan sering kali karena sensasi. Banyak di antara mereka yang terpilih bukan berkat kapasitas, visi kebangsaan, atau rekam jejak perjuangan, melainkan semata karena popularitas di layar kaca.
Inilah ironi demokrasi kita. Rakyat memilih karena wajah familiar, bukan karena program kerja yang jelas. Hasilnya, DPR kerap menjadi panggung “kedua” para artis bukan panggung untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, melainkan panggung untuk mempertahankan eksistensi diri.
Apakah rakyat pantas diwakili oleh figur yang bahkan gagap memahami persoalan konstitusi, hukum, hingga problematika sosial-ekonomi bangsa? Bagaimana mungkin seorang wakil rakyat tak mampu bicara dalam forum rapat, tak menguasai isu, bahkan lebih sering absen daripada hadir? Kehadiran mereka akhirnya hanya memperburuk citra DPR yang selama ini memang sudah tercoreng.
Dewan Perwakilan Rakyat bukanlah panggung hiburan. Parlemen adalah rumah rakyat, tempat kebijakan strategis yang menentukan nasib bangsa ditetapkan. Menjadi anggota DPR menuntut intelektualitas, komitmen, dan kerja keras, bukan sekadar popularitas.
Partai politik juga tak bisa lepas dari tanggung jawab. Demi mendulang suara, mereka cenderung mengusung artis tanpa menimbang kualitas. Politik transaksional semacam ini jelas mengkhianati makna demokrasi yang seharusnya berorientasi pada kualitas wakil, bukan sekadar kuantitas suara.
Rakyat tidak butuh selebritas di kursi parlemen. Rakyat butuh wakil yang mengerti penderitaan petani, memahami jeritan buruh, mendengarkan suara nelayan, dan menuntaskan problem pendidikan serta kesehatan. Jika artis memang serius berpolitik, seharusnya mereka membuktikan diri lewat kerja nyata, bukan sekadar numpang popularitas.
Pada akhirnya, pertanyaan tajam yang harus kita ajukan adalah: “Apakah DPR adalah panggung politik rakyat, atau sekadar panggung hiburan yang berganti kostum?”.
Penulis: Martin R Pasuko Dewo






