Lampung – Apa arti kemerdekaan jika jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan rakyat masih berlubang, hancur, dan membahayakan? Di Provinsi Lampung, kerusakan jalan sudah menjadi cerita lama yang tak pernah benar-benar selesai.
Dari era ke era, dari gubernur ke gubernur, dari presiden ke presiden, rakyat hanya dijanjikan perbaikan. Nyatanya, jalan tetap berlubang, hingga aspal menjadi tanah, debu tetap mengepul, dan masyarakat tetap menderita.
Ironinya, Lampung adalah gerbang Sumatera, wajah depan Pulau Andalas. Tapi wajah itu retak, bopeng, penuh lubang. Truk terbalik, motor jatuh, ekonomi tersendat, dan nyawa melayang, seolah dianggap hal biasa. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka sesungguhnya rakyat Lampung belum benar-benar merdeka dari penderitaan infrastruktur dasar.
Kita sudah 80 tahun merdeka. Namun, apakah pantas kemerdekaan hanya berarti upacara, pawai, dan seremonial, sementara jalan raya simbol utama pembangunan tak pernah tersentuh serius? Seakan-akan kemerdekaan hanya milik elit politik, sedangkan rakyat kecil tetap hidup dalam ketidaklayakan.
Pemerintah silih berganti mengumbar janji. Dana pembangunan tiap tahun digelontorkan, tetapi jalan tetap rusak. Maka wajar jika masyarakat bertanya: ke mana larinya uang rakyat? Siapa yang bermain di balik proyek tambal-sulam ini?
Jika jalan di Lampung tetap rusak dari masa ke masa, itu pertanda ada yang salah bukan hanya pada kebijakan, tetapi juga pada mentalitas pejabat yang seharusnya mengabdi.
Jalan rusak di Lampung bukan hanya soal infrastruktur. Ia adalah simbol gagalnya tata kelola pemerintahan. Ia adalah bukti bahwa kemerdekaan yang seharusnya berarti kesejahteraan rakyat, justru berhenti pada formalitas seremonial. Pemerintah terlihat gagah berbicara soal pembangunan besar-besaran, tetapi rakyat kecil tetap harus menanggung risiko kematian di jalan yang semestinya menjadi hak dasar mereka.
Kemerdekaan sejati seharusnya dirasakan lewat akses jalan yang aman, ekonomi yang lancar, dan kesejahteraan yang nyata. Tanpa itu, maka kemerdekaan hanyalah ilusi di tengah penderitaan rakyat.
Kini rakyat Lampung sudah lelah dengan janji. Mereka tak butuh pidato panjang atau baliho besar bergambar senyum pejabat. Yang mereka butuhkan hanyalah jalan yang mulus, aman, dan bisa menghubungkan kehidupan mereka dengan masa depan. Jika jalan saja tak bisa diurus, maka jangan salahkan rakyat jika menyebut bahwa kemerdekaan ini hanyalah fatamorgana, indah di kata-kata tapi hancur di kenyataan.
Penulis: Martin R Pasuko Dewo






