1. Wali Kota Metro Pastikan Rotasi ASN Sesuai Mekanisme
  2. Pemkot Metro Perkuat Sektor Pertanian Melalui Bantuan Traktor Roda 4
  3. Dari Rapat Tertutup ke Klarifikasi Terbuka, Ini Sikap Pemkot Metro
  4. Wali Kota Berharap Terbuka, DPRD Pilih Tertutup: Rapat Evaluasi Jadi Sorotan
  5. Kusbani: THR PPPK Paruh Waktu Metro Sesuai Aturan Pusat
  6. Stok Sembako Aman, Wali Kota Metro Tinjau Pasar Jelang Idul Fitri
  7. Akhiri Rangkaian Syiar Ramadhan, Wali Kota Metro Salurkan Bantuan Sembako
  8. Ruas Jalan Raya Stadion Mulai Diperbaiki, Pemkot Metro Lakukan Pemeliharaan Infrastruktur
  9. Resmi Dilantik, Kusbani Emban Amanah sebagai Pj Sekda Metro
  10. 100 Pejabat Dilantik, Kota Metro Mantapkan Langkah Menuju Birokrasi yang Lebih Adaptif
  11. Ketua DPRD Metro Apresiasi Kerukunan Lintas Agama
  12. Gubernur Lampung dan Wali Kota Metro Tinjau Jalan Rusak di Pattimura
  13. Rotasi 17 Pejabat, Metro Melaju dengan Formasi Baru di Puncak Birokrasi
  14. BRI Bandarjaya Salurkan Mobil Sampah
  15. Jejak Islam Banda Neira, Pengabdian Mahasiswi UM Metro
  16. Kejari Metro Tutup Tahun 2025 dengan Lonjakan Kinerja Signifikan
  17. Kejari Metro Ajak Kampus Jadi Benteng Integritas
  18. Kejari Metro Pastikan Penanganan Kasus Korupsi Bebas Intervensi
  19. Si Anak Beras Jadi Kader Muda PDI Perjuangan Kota Metro
  20. Wali Kota Metro hadiri peresmian Taman Banjuran Budayo Jambi
  21. Metro ikuti Muskomwil II APEKSI
  22. Wakil Wali Kota Metro apresiasi Peringatan Hari Guru Nasional 2025
  23. Era Baru Asisten II dan Disdikbud: Wali Kota Tegaskan Integritas Kunci Utama
  24. Wali Kota Tinjau Langsung Distribusi 1.500 Paket Sembako Murah
  25. Metro dan Kulon Progo Sinergi Lewat KAD Strategis
  26. Wali Kota Metro ajak meneladani nilai-nilai kepahlawanan
  27. Wakil Ketua Dprd Metro Ajak Masyarakat Jaga Kesehatan
  28. Dari Sawah ke Meja Hukum: Si Anak Beras Advokasi Hak Petani Metro
  29. Wali Kota Metro ikuti Rakor bersama KPK bahas penguatan sistem pencegahan korupsi
  30. Wali Kota Metro apresiasi acara Rapat Pemantauan dan Evaluasi Program dari KPK RI
  31. Jaga ketahanan pangan, Wali Kota Metro tanam padi
  32. Wali Kota Metro Car Free Day bersama masyarakat
  33. Pemkot Metro Gelar Pasar Murah
  34. Wali Kota Metro ajak pemuda memaknai Sumpah Pemuda
  35. Bambang Rafieq Raih Penghargaan Walikota Wakil Walikota Inspiratif Peduli Sampah dan Lingkungan dari GML Indonesia
  36. Wali Kota Metro tinjau bedah rumah di Kelurahan Yosomulyo
  37. Wali Kota Metro instruksikan penanganan pasca kebakaran agar segera pulih
  38. Sukses kelola APBD, Kota Metro masuk daftar daerah terbaik se-Indonesia
  39. PWI dan Kejari Metro Teguhkan Komitmen Bersama dalam Penegakan Hukum Yang Transparan
  40. Pelaku Curanmor di Metro Kian Nekat
  41. Metro raih penghargaan TPAKD Award tahun 2025
  42. Dprd Metro Ingatkan Pemkot Terkait Seragam Pamong
  43. Wali Kota Metro resmikan Dapur MBG SPPG Tejosari
  44. Job Fair Online Disnakertrans Kota Metro: Peluang Nyata, Kebahagian Baru
  45. Jika Pertanyaan Dijawab dengan Pembungkaman
  46. Pemkot Metro Sambut Kepala BKKBN, Fokus Tekan Stunting dan Tingkatkan Kualitas Keluarga
  47. JMSI Dorong Penegakan Hukum Transparan di Lampung
  48. Wali Kota Metro Lantik 10 Pejabat Baru
  49. HUT Ke-24, Partai Demokrat Kota Metro Bagikan Sembako kepada Warga
  50. Pemkot dan DPRD Metro Janji Tuntaskan Masalah Sampah dan Beras Oplosan
  51. Aksi Pencuri Gasak Motor Terekam CCTV di Metro
  52. Wali Kota Metro Resmi Buka Pentas FTBI dan PAI 2025
  53. Wali Kota Metro Resmi Buka Tennis Tournament Metro Cup III
  54. Korupsi Jalan Dr. Sutomo Terungkap, Kejari Metro Tegaskan Komitmennya
  55. Ketika Popularitas Mengalahkan Kapasitas di Gedung Parlemen
  56. Jalan Lampung Tak Pernah Merdeka dari Kerusakan
  57. Gaple Jadi Perekat Sosial, PWI Kota Metro Sukses Gelar Cup II
  58. Ketahanan Pangan Hanya Retorika, Petani Singkong Jadi Korban
  59. Wali Kota Metro Dorong Kolaborasi Atasi Gizi Anak dan Lansia
  60. Bandel Tak Kantongi Izin, Pekerjaan My Republic di Lamteng Disegel
  61. Wali Kota Metro Tegaskan Anak Adalah Pilar Bangsa, Bukan Korban Dunia Maya
  62. Mutasi Masuk Lampung, Bebas PKB Setahun
  63. Koperasi Merah Putih Kelurahan Metro Resmi Terbentuk, Siap Dorong Perekonomian Warga
  64. Breakingnews: Pemutihan Pajak Lampung Diperpanjang Hingga Oktober 2025

Gambar Ilustrasi

Capital City – Sebuah pertanyaan tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diajukan oleh jurnalis CNN Indonesia kepada Presiden dalam agenda resmi kenegaraan, berujung pada pencabutan kartu pers oleh Biro Pers Istana. Bukan klarifikasi yang diberikan, bukan data yang disodorkan, melainkan tindakan administratif yang secara langsung membatasi ruang kerja seorang jurnalis.

Langkah ini mengirimkan pesan yang sangat jelas namun mengerikan, bertanya soal kebijakan publik bisa berujung hukuman.

Tindakan ini tidak bisa dibaca sebagai kesalahpahaman teknis atau sekadar urusan birokrasi internal. Ini adalah pembungkaman. Dan yang dibungkam bukan hanya seorang wartawan, melainkan seluruh semangat jurnalisme yang seharusnya hidup dalam iklim demokrasi.

Pertanyaan yang diajukan kepada Presiden adalah tentang pelaksanaan program MBG, program unggulan yang dijanjikan akan menyasar puluhan juta pelajar Indonesia. Dalam situasi ekonomi yang ketat dan anggaran negara yang terbatas, publik berhak tahu bagaimana program ini akan direalisasikan? Dari mana dananya? Bagaimana skemanya? Siapa yang akan bertanggung jawab?

Itulah esensi dari pertanyaan jurnalistik, menggali kebenaran atas nama publik. Namun tampaknya, pertanyaan ini dianggap terlalu “tajam”, terlalu “tidak nyaman”. Dan itulah masalahnya.

Jika seorang pemimpin negara dalam sistem demokrasi tidak bisa menerima pertanyaan kritis terkait kebijakan yang dia janjikan sendiri, maka kita patut bertanya, sedang dibawa ke mana arah kebebasan berpendapat dan transparansi pemerintahan?

Pasal 28F UUD 1945 secara tegas menjamin hak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Dalam konteks ini, pers berperan sebagai wakil publik untuk mempertanyakan dan mengawasi jalannya kekuasaan. Ketika negara mencabut akses kerja seorang jurnalis karena pertanyaan yang sah dan relevan, maka negara sedang mencabik-cabik amanat konstitusi.

Lebih dari itu, tindakan Biro Pers Istana menunjukkan adanya pola pikir yang tidak sehat, bahwa kritik adalah ancaman, dan bahwa narasi publik harus dikendalikan. Ini adalah warisan otoritarianisme yang tidak seharusnya kembali hidup di era reformasi.

Masalahnya tidak berhenti pada satu pencabutan kartu pers. Tindakan ini bisa menjadi pemimpin berbahaya yang menciptakan efek domino, membuat media enggan bertanya, membuat redaksi takut mengirim reporter ke Istana, membuat wartawan mulai menyensor pikirannya sendiri sebelum mengangkat tangan.

Hari ini CNN Indonesia, besok bisa media lain, jurnalis lain, atau bahkan warga biasa yang menyuarakan kritik di ruang digital.

Jika tak dilawan, ruang publik akan berubah menjadi ruang diam.

Presiden Prabowo tidak bisa hanya diam. Dalam demokrasi yang sehat, pemimpin bertanggung jawab atas tindakan lembaga di bawahnya, terlebih bila itu menyangkut hak dasar warga negara. Presiden harus memberi penjelasan terbuka dan menjamin bahwa tidak akan ada pembalasan terhadap jurnalis atau media yang menjalankan tugasnya.

Biro Pers Istana pun harus segera mengklarifikasi tindakan ini secara transparan. Siapa yang memutuskan pencabutan kartu pers? Atas dasar apa? Dan apakah mekanisme banding tersedia bagi media yang menjadi korban kebijakan sewenang-wenang?

Solidaritas antarjurnalis dan media adalah kunci. Kasus ini bukan hanya urusan CNN Indonesia, ini menyangkut seluruh ekosistem kebebasan pers di Indonesia. Bila kita membiarkan satu pintu ditutup hari ini, maka besok bisa jadi seluruh jendela akan dikunci.

Masyarakat sipil juga tidak boleh diam. Sebab pada akhirnya, ketika pers tak lagi bebas bertanya, maka publik pun akan kehilangan haknya untuk tahu.

Kebebasan pers bukanlah musuh kekuasaan. Ia adalah pilar yang menopang kepercayaan publik terhadap negara. Dan sebuah negara yang membungkam pertanyaan, cepat atau lambat, akan kehilangan kepercayaan itu.

Mungkin tidak akan ada penggusuran media secara besar-besaran. Tidak akan ada sensor formal seperti masa Orde Baru. Tapi jika wartawan takut bertanya, redaksi takut mengkritik, dan kekuasaan merasa tak perlu menjawab, maka demokrasi kita sudah sakit.

Dan hari ini, kita baru saja menyaksikan gejalanya.

Penulis: Martin R Pasuko Dewo 

Adminsainewstv

0 Comments

Leave a Comment