Indonesia – Petani singkong hari ini tidak sedang menanam harapan, melainkan menanam kekecewaan. Mereka bekerja keras dari musim ke musim, namun yang dipanen hanyalah penderitaan. Harga singkong yang jatuh bebas, biaya pupuk yang kian mencekik, dan minimnya perhatian dari pemerintah membuat profesi ini seolah tak lagi menjanjikan kehidupan.
Pemerintah sibuk berbicara tentang ketahanan pangan, tentang swasembada, tentang kesejahteraan petani. Namun di lapangan, kenyataannya jauh panggang dari api. Petani singkong justru ditinggalkan, dibiarkan bertarung sendirian dengan harga pasar yang dimainkan tengkulak, sementara negara seolah hanya menonton dari kejauhan.
Ironis, negeri ini pernah berbangga dengan singkong sebagai sumber pangan alternatif. Kini, komoditas itu diperlakukan bagai anak tiri. Tidak ada kebijakan harga yang jelas, tidak ada jaminan pasar, apalagi dukungan serius pada industri pengolahan. Petani hanya jadi korban, terseret dalam rantai distribusi yang timpang dan tak adil.
Lebih menyakitkan, pemerintah justru membuka keran impor produk turunannya. Padahal, singkong petani lokal melimpah, tapi terpaksa dijual murah. Apakah ini bukti bahwa kebijakan pertanian kita lebih berpihak pada pasar global ketimbang nasib petani di desa-desa?
Setiap kali musim panen tiba, suara jeritan petani singkong bergema. Mereka menjual hasil panennya dengan harga hina, sering kali bahkan tidak cukup menutup ongkos tanam. Inikah yang disebut negara agraris? Inikah wajah bangsa yang konon berlandaskan gotong royong?
Jika situasi ini terus dibiarkan, petani singkong benar-benar akan jatuh ke jurang. Jurang kemiskinan yang dalam, jurang ketidakadilan yang gelap, dan jurang ketidakpastian masa depan. Dan ketika petani singkong menyerah, jangan salahkan jika negeri ini kehilangan salah satu pilar penting ketahanan pangannya.
Negara tidak boleh hanya jadi penonton. Pemerintah harus hadir—bukan dengan janji kosong, tapi dengan langkah konkret: jaminan harga, dukungan industri hilir, dan kebijakan yang benar-benar berpihak. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat bahwa bangsa ini pernah membiarkan petani singkong berjalan menuju jurang tanpa tangan yang menolong.
Penulis: Martin R Pasuko Dewo






